Dalam suatu pertemuan, saya berkesempatan berbincang dengan Bpk. Nasri Sakamole, salah satu widyaiswara di kalangan Balai Diklat Manado. Beliau merupakan pemerhati di bidang pembelajaran berbasis otak dan metode pengembangan diri. Salah satu yang menarik perhatian saya saat berbincang dengan beliau adalah pemikiran beliau tentang cara hidup yang positif. Positif yang saya tekankan disini bukanlah dengan tanda kutip, tetapi benar-benar positif yang sesungguhnya. Saya tertarik karena merasa mendapatkan suatu bahan perenungan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan saya yang notabene adalah seorang pekerja.
Ketika kita menghubungkan dua hal, seperti bekerja dan berpikir, kita memandangnya sebagai suatu kesatuan. Kita menganggap berpikir adalah salah satu konsekuensi dari bekerja. Tanpa kita sadari, rutinitas kerja yang padat dan masalah-masalah yang sering terjadi di tempat kerja membentuk pribadi kita menjadi a negative thinker. Kita berpikir negatif pada rekan kerja kita yang lebih berhasil, pada atasan kita yang cenderung arogan dan sering mendiskreditkan bawahan, bahkan kita berpikir negatif pada diri kita sendiri yang sudah menjadi pecandu kerja. Perasaan-perasaan negatif tersebut terus berakumulasi dalam diri kita dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang dinamakan stress. Padahal kalau kita rajin membaca buku atau browsing internet, akan kita temukan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkan oleh stress itu sendiri. Sedikit saya ulas, tubuh kita menanggapi perasaan negatif dengan memicu pelepasan hormon adrenalin secara berlebihan, yang menyebabkan percepatan denyut jantung, peningkatan ventilasi paru, dan meningkatnya kontraksi sistem pencernaan. Jika proses tersebut terus berkembang dan berkelanjutan, maka produk akhirnya adalah berbagai macam penyakit.
Sebagai seorang manusia yang memilki akal budi, kita tentunya tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari bahaya – bahaya yang mungkin akan muncul seperti yang telah disebutkan diatas. Tetapi sekali lagi, kita cenderung menjadi pecandu. Seorang pecandu selalu sadar akan setiap resiko dari apa yang dicandunya, tetapi tidak berusaha menghindari hal tersebut dengan alasan ketidakberdayaan.
Untuk alasan tersebut saya ingin mengajak setiap orang untuk masuk kedalam perenungan pribadi saya. Saya ingin mengadakan ”rekonsepsi” pemahaman tentang apa sebenarnya ’negatif dan positif’ itu sendiri. Dan setelah saya merenung, ternyata kesimpulan saya sederhana saja, negatif itu merusak, positif itu memperbaiki. Positif artinya bangga dengan apa yang dimiliki, sebagai seorang rekan kerja yang baik, yang merasa senang akan keberhasilan rekannya, dan menjadikannya cambuk untuk terus meningkatkan potensi diri. Positif dalam memandang seorang atasan yang begitu perhatian terhadap setiap stafnya, sehingga selalu menegur jika mereka melakukan sesuatu yang salah. Positif terhadap diri sendiri, yang tidak kenal lelah bekerja menghasilkan materi, semata-mata untuk bertahan hidup.
Saya ingin menutup perenungan saya dengan beberapa kalimat dari Ronald Laing, dalam The Politics of Experience:
Kita tidak akan menemukan keterangan dari tingkah laku jika kita melihat tingkah laku itu sebagai fase yang tidak penting dalam proses yang bukan proses manusia. Kita telah berusaha memahami manusia dengan memandangnya sebagai hewan, sebagai mesin, dan sebagai proses-proses biokimia, tetapi tetaplah merupakan kesulitan paling besar untuk memperoleh pemahaman manusiawi tentang manusia dalam kerangka kemanusiaan.
Manusia adalah manusia, mahkluk yang diciptakan Allah SWT paling sempurna daripada mahkluk ciptaanNya yang lain. So, let us be a positive thinker.
Wassalam.
2 komentar:
assalamu'alaikum....
setuju...hidup itu indah....
setuju...positif itu memperbaiki
namun...negatif itu merusak, maaf... kita berbeda disini.
karena, dengan menganggap negatif itu merusak..berarti kita telah menjadi a negative thinker.
wassalm......
Assalamualaikum..Dengan berpikir positif maka pikiran positif ini akan membawa dampak positif pula. Pada orang disekitar kita misalnya, suasana kerja, dan akhirnya kita pun akan kena effect positive itu, so keep smile and be a positive thinker. Hidup itu indah...fifa
Wassalam..
Posting Komentar