Aku terduduk. Terhening dalam sepi sampai akhirnya ku tenggelam dalam kebisuanku sendiri. Mengapa rasa ini terus saja menyelubungiku. Tuhan...aku paling benci rasa ini, selalu membuatku merasa tidak berarti di antara keberadaan, dan merasa sepi di tengah keramaian.
“Hey..kok diam, kamu tidak senang ya kita datang kemari?”, suara sahabatku memecah selimut lamunanku. Aku tertunduk saat dia menatapku. Masih saja sepi. Dan semakin sepi saat ketika satu demi satu mereka pergi sambil meninggalkan tatapan iba yang menyisakan keharuan yang memilukan. Tidak. Sungguh, aku tak mau dikasihani.
Perlahan ruang kecil ini semakin gelap seiring dengan larutnya malam. Tuhan...apa aku benar-benar berada disini?. Sebulan yang lalu aku ditemukan overdosis di sebuah pub, lalu dirazia polisi, dan seterusnya aku tak ingat apa-apa lagi. Entah siapa yang telah membawaku ke tempat jelek ini. Oh...aku tak peduli. Aku hanya seorang gadis enam belas tahun yang terperangkap dalam masalahnya sendiri. Padahal sebenarnya ini semua bukan keinginanku. Bukan salahku kalau aku tidak cukup mendapat kasih sayang. Bukan juga salahku jika aku tumbuh menjadi seseorang yang tak berguna.
Setitik air mata jatuh menggenangi pipiku tanpa bisa kutahan. Aku ingat, ini adalah air mata pertama setelah sekian tahun lamanya aku tak pernah menangis. Sedetik kemudian aku menangis, menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya ku tertidur disela isakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar