Rabu, September 24, 2008

Kau

Kau tau...
Kau adalah pelangiku
mewarnai hidup hitam-putihku
semarakkan dunia kelabu-ku
Tak kubayangkan kehidupanku tanpamu
Kau tau...
Kau adalah matahariku
Menyinari kalbu kelamku
Menerangi jiwa suramku
Tak kubayangkan hari-hariku tanpamu
Kau tau...
Kau adalah rembulanku
Menemani malam melankolisku
Kau adalah bintang-bintangku
Hiasi langit hatiku
Kau adalah supernovaku
Kau adalah mutiaraku
Kau adalah permataku
Kau adalah kau
soulmateku

Selasa, September 09, 2008

jadwal imsakiyah yg dihisab peserta hisab rukyat BDK Manado thn 2008

JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1429 H/2008 M
DAN AWAL WAKTU-WAKTU SHALAT
UNTUK BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MANADO DAN SEKITARNYA

Ramadhan Masehi Imsak Subuh Terbit Dzuhur Ashar Maghrib Isya’
1 1 Sept 2008 04:10 04:20 05:34 11:42 14:53 17:48 18:55
2 2 Sept 2008 04:10 04:20 05:34 11:42 14:53 17:47 18:55
3 3 Sept 2008 04:10 04:20 05:34 11:41 14:52 17:47 18:55
4 4 Sept 2008 04:10 04:20 05:33 11:41 14:51 17:46 18:54
5 5 Sept 2008 04:09 04:19 05:33 11:41 14:50 17:46 18:54
6 6 Sept 2008 04:09 04:19 05:33 11:40 14:49 17:46 18:53
7 7 Sept 2008 04:09 04:19 05:32 11:40 14:48 17:45 18:52
8 8 Sept 2008 04:09 04:19 05:32 11:40 14:47 17:45 18:52
9 9 Sept 2008 04:08 04:18 05:32 11:39 14:46 17:44 18:52
10 10 Sept 2008 04:08 04:18 05:31 11:39 14:45 17:44 18:52
11 11 Sept 2008 04:08 04:18 05:31 11:39 14:44 17:44 18:51
12 12 Sept 2008 04:08 04:18 05:31 11:38 14:43 17:43 18:51
13 13 Sept 2008 04:07 04:17 05:30 11:38 14:42 17:43 18:50
14 14 Sept 2008 04:07 04:17 05:30 11:37 14:41 17:43 18:50
15 15 Sept 2008 04:07 04:17 05:30 11:37 14:40 17:42 18:49
16 16 Sept 2008 04:06 04:16 05:30 11:37 14:39 17:42 18:49
17 17 Sept 2008 04:06 04:16 05:29 11:36 14:38 17:41 18:49
18 18 Sept 2008 04:06 04:16 05:29 11:36 14:37 17:41 18:48
19 19 Sept 2008 04:06 04:16 05:29 11:36 14:36 17:41 18:48
20 20 Sept 2008 04:05 04:15 05:28 11:35 14:36 17:40 18:47
21 21 Sept 2008 04:05 04:15 05:28 11:35 14:37 17:40 18:47
22 22 Sept 2008 04:05 04:15 05:28 11:35 14:37 17:39 18:47
23 23 Sept 2008 04:04 04:14 05:27 11:35 14:38 17:39 18:46
24 24 Sept 2008 04:04 04:14 05:27 11:34 14:38 17:39 18:46
25 25 Sept 2008 04:04 04:14 05:27 11:34 14:38 17:38 18:45
26 26 Sept 2008 04:03 04:13 05:26 11:33 14:39 17:38 18:45
27 27 Sept 2008 04:03 04:13 05:26 11:33 14:39 17:37 18:45
28 28 Sept 2008 04:03 04:13 05:26 11:33 14:39 17:37 18:44
29 29 Sept 2008 04:02 04:12 05:26 11:32 14:40 17:37 18:44
30 30 Sept 2008 04:02 04:12 05:25 11:32 14:40 17:36 18:44



Keterangan:
1. Lintang tempat : 1⁰30’ LU
2. Bujur tempat : 124⁰54’ BT
3. Jadwal ini sudah diikhtiyat ± 2 menit
4. Jadwal ini dihisab oleh peserta Diklat Hisab Rukyat Tahun 2008, dan telah direkomendasikan oleh
Tim Pengajar :
1. Abdullah Alfalaky Albuchari, S.Ag, M.HI
2. Drs. Muhammad Rusdi Musanip
5. Agar senantiasa menyesuaikan dan mengontrol jam setempat dengan jam RRI.

Rabu, September 03, 2008

hari ini sakit, besok???

Sakit..
Aku mengawali hari ini dengan lima huruf tersebut. Sakit memang ngga enak, apalagi kalo lagi puasa. But, siapa sih yang pengen sakit?. Badan ngga enak, kerja ngga lancar, semuanya jadi berantakan.
Tapi pernah ngga kita menyadari sakit itu sebenarnya berasal dari mana?.
Kita menganggap sakit itu adalah akibat. Akibat dari kebiasaan makan yang buruk, akibat dari cuaca yang cenderung berubah-ubah, akibat sistem imunitas tubuh yang terganggu.
Benarkah??
Ataukah sakit itu adalah ujian dari Allah?. Bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari DIA?
Menyadari hal tersebut aku jadi bersyukur karena sakit. Karena itu tandanya aku masih diperhatikan olehNYA. Mungkin jika aku terus bersyukur, aku bisa diberiNYA nikmat kesembuhan. Seperti beberapa kalimat dari sebuah buku yang pernah kubaca,
"Be Thankful for the difficult times, because it means you've made a difference, it is easy to be thankful for the good things, life of rich fullfilments come to those who are also thankful for the setbacks, gratitude can turn a negative into positive"
Yah...kalo ngga salah sih kalimat itu aku baca dari buku Sufi, "Hidup ini Indah"
iya kan, hidup ini indah? Bahkan segala sesuatu yang negatif kalo kita menanggapinya dengan bersyukur pun itu bisa berubah jadi sesuatu yang positif.
Yah, cukuplah sakit untuk topik hari ini,
Lalu, bagaimana besok?

Selasa, September 02, 2008

Think Positive, Why Not?

Dalam suatu pertemuan, saya berkesempatan berbincang dengan Bpk. Nasri Sakamole, salah satu widyaiswara di kalangan Balai Diklat Manado. Beliau merupakan pemerhati di bidang pembelajaran berbasis otak dan metode pengembangan diri. Salah satu yang menarik perhatian saya saat berbincang dengan beliau adalah pemikiran beliau tentang cara hidup yang positif. Positif yang saya tekankan disini bukanlah dengan tanda kutip, tetapi benar-benar positif yang sesungguhnya. Saya tertarik karena merasa mendapatkan suatu bahan perenungan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan saya yang notabene adalah seorang pekerja.

Ketika kita menghubungkan dua hal, seperti bekerja dan berpikir, kita memandangnya sebagai suatu kesatuan. Kita menganggap berpikir adalah salah satu konsekuensi dari bekerja. Tanpa kita sadari, rutinitas kerja yang padat dan masalah-masalah yang sering terjadi di tempat kerja membentuk pribadi kita menjadi a negative thinker. Kita berpikir negatif pada rekan kerja kita yang lebih berhasil, pada atasan kita yang cenderung arogan dan sering mendiskreditkan bawahan, bahkan kita berpikir negatif pada diri kita sendiri yang sudah menjadi pecandu kerja. Perasaan-perasaan negatif tersebut terus berakumulasi dalam diri kita dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang dinamakan stress. Padahal kalau kita rajin membaca buku atau browsing internet, akan kita temukan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkan oleh stress itu sendiri. Sedikit saya ulas, tubuh kita menanggapi perasaan negatif dengan memicu pelepasan hormon adrenalin secara berlebihan, yang menyebabkan percepatan denyut jantung, peningkatan ventilasi paru, dan meningkatnya kontraksi sistem pencernaan. Jika proses tersebut terus berkembang dan berkelanjutan, maka produk akhirnya adalah berbagai macam penyakit.

Sebagai seorang manusia yang memilki akal budi, kita tentunya tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari bahaya – bahaya yang mungkin akan muncul seperti yang telah disebutkan diatas. Tetapi sekali lagi, kita cenderung menjadi pecandu. Seorang pecandu selalu sadar akan setiap resiko dari apa yang dicandunya, tetapi tidak berusaha menghindari hal tersebut dengan alasan ketidakberdayaan.

Untuk alasan tersebut saya ingin mengajak setiap orang untuk masuk kedalam perenungan pribadi saya. Saya ingin mengadakan ”rekonsepsi” pemahaman tentang apa sebenarnya ’negatif dan positif’ itu sendiri. Dan setelah saya merenung, ternyata kesimpulan saya sederhana saja, negatif itu merusak, positif itu memperbaiki. Positif artinya bangga dengan apa yang dimiliki, sebagai seorang rekan kerja yang baik, yang merasa senang akan keberhasilan rekannya, dan menjadikannya cambuk untuk terus meningkatkan potensi diri. Positif dalam memandang seorang atasan yang begitu perhatian terhadap setiap stafnya, sehingga selalu menegur jika mereka melakukan sesuatu yang salah. Positif terhadap diri sendiri, yang tidak kenal lelah bekerja menghasilkan materi, semata-mata untuk bertahan hidup.

Saya ingin menutup perenungan saya dengan beberapa kalimat dari Ronald Laing, dalam The Politics of Experience:

Kita tidak akan menemukan keterangan dari tingkah laku jika kita melihat tingkah laku itu sebagai fase yang tidak penting dalam proses yang bukan proses manusia. Kita telah berusaha memahami manusia dengan memandangnya sebagai hewan, sebagai mesin, dan sebagai proses-proses biokimia, tetapi tetaplah merupakan kesulitan paling besar untuk memperoleh pemahaman manusiawi tentang manusia dalam kerangka kemanusiaan.

Manusia adalah manusia, mahkluk yang diciptakan Allah SWT paling sempurna daripada mahkluk ciptaanNya yang lain. So, let us be a positive thinker.

Wassalam.

Dilema Hati (bag.2)

”Katanya kemarin teman-temanmu datang ya?”

Aku menoleh ketika kudengar suara ibu Asih, sang kepala pondok menanyaiku. Aku tak begitu menyukai kehadirannya disini. Lagipula menurutku dia terlalu sok ingin tau dan hanya menggangguku saja. Sosoknya yang sudah agak tua membuatku teringat pada cerita nenek cerewet yang sok tahu. Meskipun begitu aku mengangguk merespon pertanyaannya.

” Wah..pasti kamu senang sekali, soalnya selama sebulan kamu disini ibu belum lihat ada yang mengunjungi kamu”, bu Asih berkata seraya duduk disampingku.

Aku diam saja, tak menanggapi ucapannya. Pikiranku lebih terpusat pada daun-daun kering yang masih menempel di pohon dekat tempatku duduk. Seperti aku. Aku membayangkan diriku sebagai daun yang kering, sebentar lagi jatuh berguguran. Tak ada lagi harapan.

” Mm...Ris, ibu boleh tahu apa cita-cita kamu?”

Pertanyaan bu Asih membuatku tersentak, sedetik kemudian aku tersenyum sinis, bahkan nyaris tertawa terbahak-bahak. Cita-cita?. Huh...lucu. Baru saja aku mengaminkan diriku yang tak punya harapan lagi. Drugs, minuman keras, bahkan free sex yang meleburkan semua impian yang pernah kuangankan sejak kanak-kanak dulu.

Ibu Asih menatapku, heran. ”Kenapa Ris...kok tersenyum?”

”Aku tidak punya impian. Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah meninggalkan dunia yang menjengkelkan ini. Mungkin yang kuinginkan adalah kematian saja”, aku berkata dengan ringan.

”Astaghfirullah Ris, nggak baik ngomong begitu..”, bu Asih memprotes ucapanku barusan.

”Siapa juga yang bilang itu baik. Bukankah ibu lihat sendiri, semua tentang diriku tidak ada yang baik”, aku menjawab dengan sinis. Huh..kenapa orang ini begitu ikut campur dalam masalahku. Bahkan orang tuaku saja tak pernah mau peduli dengan semua urusanku.



Bukan. Kehidupanku bukanlah seperti skenario film. Aku bukanlah seorang anak dari keluarga kaya raya dimana orang tuanya hanya memberi kecukupan materi sehingga kurang kasih sayang. Aku bahkan lebih mengenaskan lagi. Ayahku seorang penjahat. Aku sangat membencinya. Dia selalu memukul ibuku sampai akhirnya ibuku melaporkannya ke polisi. Setahun setelah ayahku ditangkap, ibuku meninggal karena tak sanggup menahan tekanan jiwa. Mereka punya masalah sendiri-sendiri, hingga tak punya waktu mengurusi aku. Dasar egois. Aku benci mereka berdua. Aku juga membenci diriku sendiri. Mengapa aku?. Dari sekian banyak jiwa yang ada di dunia ini kenapa harus aku yang terpilih untuk lahir di keluarga ini. Ayah yang kejam, ibu yang gila. Syukurlah mereka sudah tidak ada lagi. Toh ada ataupun tiada mereka, tetap saja tak ada pengaruhnya. Bukan hanya kasih sayang yang tak mereka berikan, materipun tak pernah mereka cukupkan. Aku bahkan harus menjual diriku untuk sekedar mendapat pil-pil surga yang bisa membuatku melupakan segalanya. Hanya itu saja yang menghiburku, dan itupun mereka rampas dariku. Lalu, apakah yang lebih menarik bagiku daripada kematian?

Bu Asih mendekatkan dirinya padaku, dan berkata gamang, ”Lihat itu Ris...kau seperti dia”. Dia menunjuk ke arah pohon dan dedaunan kering dihadapanku.

Aku mengangguk, sakit. Saat ketika kita menyadari diri kita dalam sebuah pengandaian yang ironi, adalah sungguh suatu hal yang sangat menyakitkan.

”Jangan membayangkan dirimu sebagai daun kering yang sebentar lagi akan jatuh dan gugur ke tanah. Tidak, kau bukan seperti itu. Kau adalah pohon yang kokoh berdiri itu, Ris...”

Aku terkejut menatap bu Asih. Dia seakan tahu apa yang ada di pikiranku.

”Bu..seandainya dunia ini adalah sebuah pengandaian, maka ibu mengambil pengandaian yang salah”, aku berkata sembari menatap mata bu Asih, lekat.

Bu Asih tersenyum dan terdiam sejenak. Mungkin penolakanku atas semua ucapannya membuatnya harus berpikir keras mencari sejuta kata lain yang dapat menembus benteng ketidakpedulianku.

”Pohon itu baru beberapa tahun ibu tanam. Dia masih muda, seperti kamu”

Aku tertawa dalam hati, sebuah pengandaian yang aneh. Ternyata dia menyamakan diriku dan pohon itu hanya dalam kapasitas usia saja.

”Kau tahu, tahun lalu ketika badai angin menyerang daerah ini, pohon itu ikut terkena imbasnya. Beberapa rantingnya patah. Empat bulan lalu, ketika kekeringan melanda, pohon itu juga nyaris mati. Tapi kamu lihat...dia bisa melalui semuanya itu dan tetap tegar berdiri sampai sekarang ini.”, bu Asih berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan penuh arti, kemudian kembali berbicara.

”Kau juga seperti itu Ris, kau telah melalui sepanjang hidupmu dengan penderitaan, tetapi kau mampu bertahan. Meskipun caramu menyimpang dari norma yang ada, tapi ibu percaya, itu adalah caramu bertahan hidup. Toh kau masih muda. Mungkin apa yang telah kau alami itu memberimu kesempatan untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk”, bu Asih mengakhiri kalimat-kalimatnya yang panjang lebar dengan sesungging senyuman.

Sungguh suatu filosofi yang bagus. Aku terkesan. Tapi itu salah, aku bukanlah pohon yang berdiri tegak itu. Di dalam hatiku semuanya hancur, tak tersisa.

”Bu...tak usah menghiburku. Apapun yang ibu katakan takkan bisa membalikkan pandanganku tentang masa depan. Ibu tahu kenapa?...karena aku tak punya masa depan lagi”

Bu Asih menatapku serius, ”Oh ya...kenapa?, apa yang membuatmu bicara begitu.”

”Karena aku tak punya alasan untuk terus menapaki masa depan. Aku sudah hancur bu...Itu semua karena orang tuaku”



Aku menangis. Terus menangis sampai dadaku sesak menahan isak tangisku. Aku sungguh heran, mengapa akhir-akhir ini aku menjadi begitu sentimentil.

Bu Asih menempelkan tangannya dipipiku dan membelainya dengan lembut. Ada sesuatu di dalam diriku yang membuncah ketika dia melakukannya. Aku tak paham, apakah itu perasaan rindu?. Ya..aku rindu. Sudah sekian lama aku tak merasakan belaian lembut seperti itu. Aku ingat ketika ibuku melakukannya dulu, aku merasa senang sekali. Rasanya aku terlindung dari apapun juga yang ada di dunia ini.

”Jadikanlah dirimu sebagai alasan Ris...kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Jangan biarkan orang lain menyakitimu. Kau sudah mengalami berbagai kesusahan hidup dan belajar menyelami berbagai karakter orang. Ibu yakin orang tuamu bukannya tak menyayangimu, tetapi mereka hanyalah manusia lemah yang tak sanggup menahan egonya sendiri.”

Aku terdiam. Menghela nafas dalam-dalam, menghirup setiap molekul oksigen yang bertebaran di taman pondok rehabilitasi ini. Diam-diam kucerna setiap penggalan kata yang diucapkan oleh bu Asih. Entah kenapa, aku tak ingin membantahnya lebih lanjut. Aku ingin belajar merasakan suatu perasaan yang tak pernah kumiliki: rasa percaya. Aku ingin percaya pada bu Asih, percaya pada semua kata-katanya.



Kami terdiam cukup lama. Mungkin karena sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara. Mungkin juga karena ingin menikmati suara kicau burung yang merdu, atau angin sore yang berhembus perlahan.

Sayup-sayup terdengar azan Maghrib membahana dari pengeras suara mesjid. Aku merasakan haru yang tak tertahankan. Ya allah...aku rindu Engkau. Aku rindu bersujud memujaMU. Aku rindu akan cintaMU....

”Bu....”

”Ya, ada apa?”

”ajarkan aku sholat”

Bu Asih tersenyum. Senyum yang indah, seindah langit sore hari.



^^^

enaknya punya ponakan



Dilema Hati (bag.1)

Aku terduduk. Terhening dalam sepi sampai akhirnya ku tenggelam dalam kebisuanku sendiri. Mengapa rasa ini terus saja menyelubungiku. Tuhan...aku paling benci rasa ini, selalu membuatku merasa tidak berarti di antara keberadaan, dan merasa sepi di tengah keramaian.

“Hey..kok diam, kamu tidak senang ya kita datang kemari?”, suara sahabatku memecah selimut lamunanku. Aku tertunduk saat dia menatapku. Masih saja sepi. Dan semakin sepi saat ketika satu demi satu mereka pergi sambil meninggalkan tatapan iba yang menyisakan keharuan yang memilukan. Tidak. Sungguh, aku tak mau dikasihani.

Perlahan ruang kecil ini semakin gelap seiring dengan larutnya malam. Tuhan...apa aku benar-benar berada disini?. Sebulan yang lalu aku ditemukan overdosis di sebuah pub, lalu dirazia polisi, dan seterusnya aku tak ingat apa-apa lagi. Entah siapa yang telah membawaku ke tempat jelek ini. Oh...aku tak peduli. Aku hanya seorang gadis enam belas tahun yang terperangkap dalam masalahnya sendiri. Padahal sebenarnya ini semua bukan keinginanku. Bukan salahku kalau aku tidak cukup mendapat kasih sayang. Bukan juga salahku jika aku tumbuh menjadi seseorang yang tak berguna.

Setitik air mata jatuh menggenangi pipiku tanpa bisa kutahan. Aku ingat, ini adalah air mata pertama setelah sekian tahun lamanya aku tak pernah menangis. Sedetik kemudian aku menangis, menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya ku tertidur disela isakku.

Ramadhanku

beberapa musim lah berlalu
kini kau hadir kembali, menyiratkan suka tak terkira
di dalammu kuhirup wangi surga
aku datang dengan kesederhanaan,
memohon kau menyambutku dengan kemeriahan