”Katanya kemarin teman-temanmu datang ya?”
Aku menoleh ketika kudengar suara ibu Asih, sang kepala pondok menanyaiku. Aku tak begitu menyukai kehadirannya disini. Lagipula menurutku dia terlalu sok ingin tau dan hanya menggangguku saja. Sosoknya yang sudah agak tua membuatku teringat pada cerita nenek cerewet yang sok tahu. Meskipun begitu aku mengangguk merespon pertanyaannya.
” Wah..pasti kamu senang sekali, soalnya selama sebulan kamu disini ibu belum lihat ada yang mengunjungi kamu”, bu Asih berkata seraya duduk disampingku.
Aku diam saja, tak menanggapi ucapannya. Pikiranku lebih terpusat pada daun-daun kering yang masih menempel di pohon dekat tempatku duduk. Seperti aku. Aku membayangkan diriku sebagai daun yang kering, sebentar lagi jatuh berguguran. Tak ada lagi harapan.
” Mm...Ris, ibu boleh tahu apa cita-cita kamu?”
Pertanyaan bu Asih membuatku tersentak, sedetik kemudian aku tersenyum sinis, bahkan nyaris tertawa terbahak-bahak. Cita-cita?. Huh...lucu. Baru saja aku mengaminkan diriku yang tak punya harapan lagi. Drugs, minuman keras, bahkan free sex yang meleburkan semua impian yang pernah kuangankan sejak kanak-kanak dulu.
Ibu Asih menatapku, heran. ”Kenapa Ris...kok tersenyum?”
”Aku tidak punya impian. Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah meninggalkan dunia yang menjengkelkan ini. Mungkin yang kuinginkan adalah kematian saja”, aku berkata dengan ringan.
”Astaghfirullah Ris, nggak baik ngomong begitu..”, bu Asih memprotes ucapanku barusan.
”Siapa juga yang bilang itu baik. Bukankah ibu lihat sendiri, semua tentang diriku tidak ada yang baik”, aku menjawab dengan sinis. Huh..kenapa orang ini begitu ikut campur dalam masalahku. Bahkan orang tuaku saja tak pernah mau peduli dengan semua urusanku.
Bukan. Kehidupanku bukanlah seperti skenario film. Aku bukanlah seorang anak dari keluarga kaya raya dimana orang tuanya hanya memberi kecukupan materi sehingga kurang kasih sayang. Aku bahkan lebih mengenaskan lagi. Ayahku seorang penjahat. Aku sangat membencinya. Dia selalu memukul ibuku sampai akhirnya ibuku melaporkannya ke polisi. Setahun setelah ayahku ditangkap, ibuku meninggal karena tak sanggup menahan tekanan jiwa. Mereka punya masalah sendiri-sendiri, hingga tak punya waktu mengurusi aku. Dasar egois. Aku benci mereka berdua. Aku juga membenci diriku sendiri. Mengapa aku?. Dari sekian banyak jiwa yang ada di dunia ini kenapa harus aku yang terpilih untuk lahir di keluarga ini. Ayah yang kejam, ibu yang gila. Syukurlah mereka sudah tidak ada lagi. Toh ada ataupun tiada mereka, tetap saja tak ada pengaruhnya. Bukan hanya kasih sayang yang tak mereka berikan, materipun tak pernah mereka cukupkan. Aku bahkan harus menjual diriku untuk sekedar mendapat pil-pil surga yang bisa membuatku melupakan segalanya. Hanya itu saja yang menghiburku, dan itupun mereka rampas dariku. Lalu, apakah yang lebih menarik bagiku daripada kematian?
Bu Asih mendekatkan dirinya padaku, dan berkata gamang, ”Lihat itu Ris...kau seperti dia”. Dia menunjuk ke arah pohon dan dedaunan kering dihadapanku.
Aku mengangguk, sakit. Saat ketika kita menyadari diri kita dalam sebuah pengandaian yang ironi, adalah sungguh suatu hal yang sangat menyakitkan.
”Jangan membayangkan dirimu sebagai daun kering yang sebentar lagi akan jatuh dan gugur ke tanah. Tidak, kau bukan seperti itu. Kau adalah pohon yang kokoh berdiri itu, Ris...”
Aku terkejut menatap bu Asih. Dia seakan tahu apa yang ada di pikiranku.
”Bu..seandainya dunia ini adalah sebuah pengandaian, maka ibu mengambil pengandaian yang salah”, aku berkata sembari menatap mata bu Asih, lekat.
Bu Asih tersenyum dan terdiam sejenak. Mungkin penolakanku atas semua ucapannya membuatnya harus berpikir keras mencari sejuta kata lain yang dapat menembus benteng ketidakpedulianku.
”Pohon itu baru beberapa tahun ibu tanam. Dia masih muda, seperti kamu”
Aku tertawa dalam hati, sebuah pengandaian yang aneh. Ternyata dia menyamakan diriku dan pohon itu hanya dalam kapasitas usia saja.
”Kau tahu, tahun lalu ketika badai angin menyerang daerah ini, pohon itu ikut terkena imbasnya. Beberapa rantingnya patah. Empat bulan lalu, ketika kekeringan melanda, pohon itu juga nyaris mati. Tapi kamu lihat...dia bisa melalui semuanya itu dan tetap tegar berdiri sampai sekarang ini.”, bu Asih berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan penuh arti, kemudian kembali berbicara.
”Kau juga seperti itu Ris, kau telah melalui sepanjang hidupmu dengan penderitaan, tetapi kau mampu bertahan. Meskipun caramu menyimpang dari norma yang ada, tapi ibu percaya, itu adalah caramu bertahan hidup. Toh kau masih muda. Mungkin apa yang telah kau alami itu memberimu kesempatan untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk”, bu Asih mengakhiri kalimat-kalimatnya yang panjang lebar dengan sesungging senyuman.
Sungguh suatu filosofi yang bagus. Aku terkesan. Tapi itu salah, aku bukanlah pohon yang berdiri tegak itu. Di dalam hatiku semuanya hancur, tak tersisa.
”Bu...tak usah menghiburku. Apapun yang ibu katakan takkan bisa membalikkan pandanganku tentang masa depan. Ibu tahu kenapa?...karena aku tak punya masa depan lagi”
Bu Asih menatapku serius, ”Oh ya...kenapa?, apa yang membuatmu bicara begitu.”
”Karena aku tak punya alasan untuk terus menapaki masa depan. Aku sudah hancur bu...Itu semua karena orang tuaku”
Aku menangis. Terus menangis sampai dadaku sesak menahan isak tangisku. Aku sungguh heran, mengapa akhir-akhir ini aku menjadi begitu sentimentil.
Bu Asih menempelkan tangannya dipipiku dan membelainya dengan lembut. Ada sesuatu di dalam diriku yang membuncah ketika dia melakukannya. Aku tak paham, apakah itu perasaan rindu?. Ya..aku rindu. Sudah sekian lama aku tak merasakan belaian lembut seperti itu. Aku ingat ketika ibuku melakukannya dulu, aku merasa senang sekali. Rasanya aku terlindung dari apapun juga yang ada di dunia ini.
”Jadikanlah dirimu sebagai alasan Ris...kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Jangan biarkan orang lain menyakitimu. Kau sudah mengalami berbagai kesusahan hidup dan belajar menyelami berbagai karakter orang. Ibu yakin orang tuamu bukannya tak menyayangimu, tetapi mereka hanyalah manusia lemah yang tak sanggup menahan egonya sendiri.”
Aku terdiam. Menghela nafas dalam-dalam, menghirup setiap molekul oksigen yang bertebaran di taman pondok rehabilitasi ini. Diam-diam kucerna setiap penggalan kata yang diucapkan oleh bu Asih. Entah kenapa, aku tak ingin membantahnya lebih lanjut. Aku ingin belajar merasakan suatu perasaan yang tak pernah kumiliki: rasa percaya. Aku ingin percaya pada bu Asih, percaya pada semua kata-katanya.
Kami terdiam cukup lama. Mungkin karena sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara. Mungkin juga karena ingin menikmati suara kicau burung yang merdu, atau angin sore yang berhembus perlahan.
Sayup-sayup terdengar azan Maghrib membahana dari pengeras suara mesjid. Aku merasakan haru yang tak tertahankan. Ya allah...aku rindu Engkau. Aku rindu bersujud memujaMU. Aku rindu akan cintaMU....
”Bu....”
”Ya, ada apa?”
”ajarkan aku sholat”
Bu Asih tersenyum. Senyum yang indah, seindah langit sore hari.
^^^