Rabu, September 21, 2011

Belajar nge-Skutik

And finally......setelah beberapa kali bujukan disertai alasan-alasan logis (cieeh...), akhirnya suamiku mengizinkan beli motor matic (skutik-ween). Keinginanku ini bukannya tanpa alasan, selain ngiri karena temen2 wanita di kantor semua dah pada gaya dengan skutik masing2.....juga karena memikirkan kemudahan buat bolak-balik kantor dalam rangka menyusui si buah hati. Bayangin aja, tiap hari bolak balik pake ojek, sekali jalan 5 rb, dah gitu dari rumah ribet jalan kaki buat nyari ojek, kan repot... Pertama kali mengutarakan keinginan ditentang habis-habisan sama suami. Ada saja alasannya, mulai dari ngeri karena sering lihat kecelakaan di jalan lah, faktor keamanan lah..de el el... Tapi lambat laun luluh juga beliau, hehee.....dan akhirnya, bertenggerlah dengan cantik Yamaha Mio hijau di depan rumahku. Namun sayang, ada satu yang jadi kendala: GAK BISA BAWA MOTOR (^_^)
Pertama kali belajar motor, suami ngebonceng di belakang. Kalo jalan miring-miring, banyak ngeluh kalo mau belokan. Lewat belokan hampir saja jatuh, belum lagi kalo lewatin mobil de es be, and akhirnya nyerah biarin suami yg ngontrol setang motor dari belakang.
Kedua kalinya, pas di depan lorong mau belok hampir nabrak mobil yang lagi lewat. Aku cuek aja, suami pasrah. Intinya, masih belum bisa sama sekali.
Ketiga kalinya, di kantor, pake skutik temen. Mungkin karena bukan suami sendiri yang ngajarin, jadinya lebih bebas en gak takut salah (lho...koq lucu?), hehe...padahal motor bukan motor sendiri lho, yang artinya kalo lecet beresiko ganti rugi, hehe... Jadinya bawa Honda Beat-nya Eka, temenku, muter-muter Balai Diklat Keagamaan Manado. Untunglah kantorku luas, jalannya bagus, ada tempat buat muter-muter, and Eka mempercayakan motornya buat ku naiki sendiri. Akhirnya bisa juga, walau masih gugup2an. Pas cerita sama suami di rumah, dirinya gak percaya pada diriku. Katanya belum terbukti kalo belum disaksikan sendiri.
Yah, entahlah....diriku sih bertekad buat secepatnya bisa bawa motor sendiri ke kantor. Insya Allah, bisa....

Welcome Again

Lama juga sejak terakhir kali posting di blog ini. Saya malah hampir lupa kalo punya blog. Padahal dalam rentang waktu 2 tahunan yang lowong ini banyak sekali pengalaman menarik yang sebetulnya asyik kalo di-sharing di blog. Mulai dari pernikahan, kehamilanku, sampai saat melahirkan, harusnya jadi momen yang baik untuk menginspirasi sebuah tulisan. Tapi yah sudahlah....mulai hari ini saya usahakan untuk lebih rajin lagi ngisi tulisan disini, soalnya waktu luang di kantor lagi terbuang-buang. Sedang tidak jadi panitia diklat karena masih kategori "Ibu Menyusui" yang anaknya tidak boleh ditinggal, sementara diklat yang sedang jalan adalah Diklat di Tempat Kerja yang lokasinya jauuuuuuh banget sampai di pulau-pulau. Kan kasian kalo Azmi ditinggal-tinggal, masih kecil banget. Jadilah saya di kantor, bengong depan laptop, capek browsing macem2....akhirnya jadi teringat kalo saya punya blog di google. So, welcome again semuanya...........

Selasa, Desember 01, 2009

mimpi

Banyak orang mengatakan, bahwa mimpi yang jadi kenyataan itu adalah hal yang paling membahagiakan. Aku ingin bilang, mempunyai mimpi saja sudah cukup membuatku bahagia. Dan ketika mimpi itu nyaris menjadi kenyataan, aku malah takut. Takut bahwa kenyataan itu kan merebut mimpiku dari dunianya.
Tak seperti semua orang, aku bermimpi. Terus bermimpi setiap hari. Bahkan saat terjaga ku terus bermimpi. Aku memimpikan alam, jagat raya, seluruh planet dan satelitnya, memimpikan daun, bunga, debu, plastik, taman, gunung, selat, hidrokarbon, gugus karbonil, bahkan seluruh unsur radioaktif yang belum ditemukan ku sudah memimpikannya.
Aku juga memimpikan cinta.
Aku memimpikan semua yang kucintai juga mencintaiku. Keinginan penuh harap yang menggelikan, karena ku juga tau tak semua cinta itu nyata. Memangnya apa itu cinta?. Siapa yang membahasakannya?. Siapa yang berani mendefinisikannya?.
Benarkah saat seseorang menemukan cinta, maka dia akan bisa tertawa?
Aku bermimpi, mimpiku jadi nyata. Dan saat ku terbangun, benakku menerjemahkan setiap fase dalam kehidupanku adalah suatu kenyataan yang terenggut dari dunia mimpiku.

Minggu, November 08, 2009

Ayah....

Hari ini
kulihat kau disemua tempat
di sofa depan, dengan kaki rapuhmu yang disilangkan
di ruang tengah, depan televisi, dengan tawamu yang membahana
di kamar, lengkap dengan selembar koran, dan sepasang kacamata
depan komputer, dengan game solitaire di layar
Aku bahkan nyaris mendengar suara batukmu (lagi)
Ah....betapa besar kekuatan rindu itu
membuat sesuatu yang tak ada menjadi ada
membuat sesuatu yang tak nyata menjadi nyata
membuat sesuatu yang tak hidup menjadi hidup
Tuhan...ampuni aku, karena masih menginginkannya ada disisiku
kumohon, perbolehkanlah ia hidup dihatiku
meski hanya dihatiku.............

Senja

Semua dalam senja menerbitkan rindu
kicau burung senja hari membuatku rindu suaranya
langit senja mengingatkanku betapa teduh tatapannya
udara senja membiusku dalam kenangan sejuk cintanya
Seperti dia... Senja
Parade indah warna dalam satu bingkai wajah yang meneduhkan
Ketika,
Pada saatnya nanti senja pun pergi
berganti malam
sepi.........
yang tersisa hanya rindu


(dedicated to my beloved dad)

Sabtu, November 07, 2009

Wish you're here Dad......

Ketika terbangun di pagi hari, ku menyaksikan diriku sendiri yang semakin dewasa. Orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Kembali mengalamai insomnia lokal, karena pikiran yang bertumpuk tak membiarkan kantuk menyerang. Aku teringat padamu papa.... Jika kau ada disini, saat ini, apakah kau akan membiarkannku menjalaninya sendiri?
Semakin teringat padamu, aku jadi semakin melakolis. Butiran air melesat dipipiku tanpa diundang. Sedikit saja kenangan tentangmu hadir, mataku otomatis memproduksi air yang tak bisa ku tahan keluar dari pelupuk mata. Salahkah jika aku kangen padamu papa?, setiap hari merindukan dirimu, menginginkan hadirmu walau hanya dalam bentuk bayang-bayang....
Aku memikirkan dirimu disana, di tempatmu sekarang. Dan kemudian menyadari betapa bodohnya diriku, karena menghawatirkan seseorang yang telah dijaga oleh Sang Maha Penjaga. DIA tentu akan menyayangimu lebih daripada aku menyayangimu.
Tapi saat-saat ini aku sangat membutuhkanmu papa. Membutuhkan kata-katamu yang biasanya solusi dari segala masalah. Membutuhkan kasih sayangmu lebih daripada biasanya. Siapakah yang akan mencukupkan itu padaku saat ini pa?........

Kamis, November 05, 2009

perjalanan Observasi Lapangan



Kemarin, Balai Diklat Keagamaan Manado berkesempatan menyelenggarakan OL atau Observasi Lapangan bagi peserta Diklat Peningkatan Kualitas Kepemimpinan Kepala KUA Angk. II. OLnya mengambil lokasi di KUA Kec. Kauditan Minahasa Utara. Gak usah dibahas mengenai apa OL itu atau bagaimana mekanismenya yah... Suerr dech, bikin boring, hehe... Bahas yang asik-asik aja dech. Jalan-jalan dengan para Kepala KUA tuh ternyata seru ya. Lucu.... Sepanjang perjalanan Manado-Kauditan yang panjang terasa menyenangkan karena ada-ada saja ocehan lucu dari para peserta. Bus tua sewaan yang non-AC pun disulap seperti bus pariwisata yang nyaman lengkap dengan pemandu wisatanya, karena ada salah seorang peserta yang bertindak seolah-olah guide lokal. Sampai di tempat tujuan pun, tak henti ulah dari para pejabat nikah ini yang menerbitkan senyum.
Akhirnya, setelah selesai dengan tetek bengek urusan OL, para peserta membujuk panitia supaya dapat berekreasi sejenak di tempat wisata. Tempat wisata tujuan tak lain adalah Pantai Malalayang yang dekat dengan pusat kota.